KAUR — Pagi yang seharusnya tenang di kawasan Padang Guci berubah menjadi adegan memilukan. Di bawah dinginnya kolong jembatan, seorang bayi perempuan yang baru saja dilahirkan ditemukan tergeletak tanpa pelindung, seolah dititipkan pada nasib, Rabu (14/1/2026).
Tak ada selimut, tak ada tanda pengenal, hanya tubuh mungil yang masih rapuh menahan udara lembap di bawah jembatan. Bayi itu ditemukan warga dalam kondisi hidup, namun jelas membutuhkan pertolongan cepat. Tangisannya menjadi saksi bisu dari sebuah keputusan yang diduga lahir dari keputusasaan.
Warga yang pertama kali melihat pemandangan tersebut mengaku terkejut dan panik. Tanpa banyak pikir, mereka langsung mengamankan bayi dan menghubungi aparat serta petugas medis. Detik-detik penyelamatan berlangsung di tengah rasa haru dan kecemasan.
Bayi kemudian dilarikan ke Puskesmas Tanjung Kemuning untuk mendapatkan perawatan intensif. Dari pemeriksaan awal, tenaga kesehatan menyatakan kondisi bayi cukup stabil, meski membutuhkan pemantauan lanjutan akibat usia kelahiran yang sangat dini dan lingkungan penemuan yang berisiko.
Di sisi lain, aparat kepolisian bergerak cepat. Garis polisi dipasang, lokasi diperiksa, dan keterangan warga dikumpulkan. Penyelidikan kini difokuskan pada upaya mengungkap siapa yang tega meninggalkan bayi tersebut di tempat yang rawan dan jauh dari jangkauan pertolongan.
Kasus ini sontak menyulut emosi publik. Banyak warga mempertanyakan di mana nurani pelaku, dan mengapa bayi yang tak berdosa harus menjadi korban. Aparat menegaskan, pengusutan akan dilakukan hingga tuntas, demi memastikan keadilan dan perlindungan bagi sang bayi.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kita semua—bahwa di balik geliat pembangunan dan rutinitas harian, masih ada jerit kemanusiaan yang nyaris tak terdengar, hingga akhirnya ditemukan di kolong jembatan.
Penulis : Zoni ap
Editor : Zn











