TPU Tepi Jalan Nasional Tanjung Kemuning Tumbuh Semak Belukar: Di Pusat Kota, Siapa yang Bertanggung Jawab?

- Penulis

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaur, Bengkulu || Pustakarakyat.com — Pemandangan memprihatinkan sekaligus mencoreng wajah daerah menyambut siapa pun yang melintas di Jalan Nasional Lintas Barat Sumatera, tepatnya di kawasan pusat Kota Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang melayani tiga desa sekaligus — Desa Tanjung Kemuning 1, Desa Tanjung Kemuning 2, dan Desa Tanjung Kemuning 3 — kini tampak ditumbuhi semak belukar lebat, seolah tak tersentuh perawatan dalam waktu yang sangat lama. Padahal lokasinya bukan di pelosok tersembunyi, melainkan berada tepat di pusat pemukiman dan pinggir jalan utama yang menjadi gerbang serta identitas wilayah ini, sebagaimana teramati pada Sabtu (3/10/2026).

Kondisi yang membiarkan kawasan pemakaman tumbuh liar seperti hutan belantara ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dan siapa yang lalai? Apakah masyarakat yang kurang peduli, pemerintah desa yang mengabaikan tugas pokoknya, atau pemerintah kecamatan serta kabupaten yang menutup mata terhadap fasilitas umum yang berada tepat di pusat kota? Tidak ada alasan yang mampu membenarkan pemandangan menyedihkan ini, mengingat TPU bukan milik perseorangan, melainkan milik bersama yang seharusnya dijaga dengan hormat dan penuh tanggung jawab.

Edison, pemuda yang kesehariannya juga berperan sebagai kontrol sosial di tengah masyarakat, menyampaikan sorotan tajam sekaligus harapan yang tulus. “Mengingat TPU ini berada di pusat kecamatan dan di jalur strategis Jalan Lintas Barat Nasional Sumatera, sudah sepantasnya tempat ini terjaga keindahan, kerapian, dan kebersihannya. Kami berharap pihak terkait dapat segera menindaklanjuti dan membersihkannya tanpa menunda lagi, bukan sekadar dibersihkan sesaat, melainkan dirawat secara berkelanjutan,” ujarnya menegaskan.

Tiga desa bergotong royong mengelola satu kawasan pemakaman yang sama, namun perawatan yang nyaris tak terlihat memunculkan keraguan: di mana koordinasi dan komitmen para pemimpin ketiga desa tersebut? Sebagai tempat peristirahatan terakhir sesama warga, TPU seharusnya terjaga bersih, rapi, dan terhormat — bukan dibiarkan ditumbuhi semak belukar yang semakin lama semakin menutupi makam-makam keluarga mereka sendiri. Jika urusan yang sedasar dan sedekat ini saja diabaikan, lalu ke mana warga harus mengadu soal hal-hal yang lebih besar?

Letaknya yang berada tepat di pinggir jalan nasional menjadikan kondisi ini bukan sekadar urusan internal warga, melainkan cermin wajah daerah yang dilihat ribuan orang setiap harinya. Pengguna jalan, pejabat, tamu, hingga warga dari berbagai daerah melintas di sini dan melihat langsung keterlantaran yang nyata. Ini bukan sekadar masalah kurangnya keindahan, melainkan bukti kelalaian yang terang-terangan. Apakah pemimpin daerah hanya sibuk saat ada acara resmi, namun melupakan tempat yang paling sakral dan paling dekat dengan kehidupan warga sehari-hari?

Tidak bisa saling melempar tanggung jawab. Masyarakat wajib peduli dan ikut menjaga; pemerintah desa wajib menganggarkan dan memprogramkan perawatan secara berkala; pemerintah kecamatan dan kabupaten wajib mengawasi, menindaklanjuti, serta memastikan fasilitas umum terurus dengan baik. Ketiga desa yang terlibat tidak boleh berdiam diri menunggu yang lain bergerak. Kelalaian bersama berarti tidak ada yang merasa dipimpin, dan tidak ada yang merasa bertanggung jawab — itulah kerugian terbesar yang menimpa wilayah ini.

Baca Juga :  Tegakkan Disiplin ASN, Pemkab Kaur Lakukan Rotasi dan Mutasi Pejabat

Membiarkan TPU tumbuh liar sama saja dengan melupakan jasa, pengorbanan, dan kenangan mereka yang telah mendahului. Semak belukar yang tumbuh tinggi bukan sekadar menutupi tanah, melainkan menutupi bukti kepedulian, ketulusan, dan keadaban suatu masyarakat. Sudah saatnya perangkat desa Tanjung Kemuning 1, 2, 3, jajaran kecamatan, hingga pemerintah kabupaten segera turun tangan. Menjaga tempat peristirahatan yang tenang bagi warganya adalah cermin sejati kepemimpinan — yang peduli tidak hanya kepada mereka yang berkuasa, tetapi juga kepada mereka yang telah berpulang.

(Okawa)

Berita Terkait

Terlihat Semua Orang Lewat: SDN 38 Kaur di Jalan Nasional Rusak Parah, Di Tengah Dana Revitalisasi APBN Mengalir
Dugaan Menghindari Konfirmasi: Kepsek SDN 128 Kaur Diduga Belum Jelaskan Pengelolaan Dana Revitalisasi APBN Rp385 Juta
Dana Desa Bekerja Nyata: Jalan ke Persawahan Talang Marap Mulai Dikerjakan
Semangat Kebangsaan Membara: SDN 4 Kaur Gelar Perlombaan Sambut HUT RI ke-81, Tanam Cinta Tanah Air Sejak Dini
Sinergi Pengawasan & Pengelolaan: Kaur Siap Terapkan Standar Nasional Pengelolaan Dana Pendidikan
Jaga Kondusivitas Daerah, Kapolres Kaur Perkuat Sinergitas dengan Bawaslu dan KPU
Peringati Hari Jadi Propam Polri ke-24, Polres Kaur Gelar Baksos: Hadir Nyata Bantu Warga Kurang Mampu dan Disabilitas
Guna Maksimalkan Pelayanan Medis, Dinkes Kaur Alokasikan Rp449 Juta untuk Ambulans Baru
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:29 WIB

Terlihat Semua Orang Lewat: SDN 38 Kaur di Jalan Nasional Rusak Parah, Di Tengah Dana Revitalisasi APBN Mengalir

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:24 WIB

TPU Tepi Jalan Nasional Tanjung Kemuning Tumbuh Semak Belukar: Di Pusat Kota, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:27 WIB

Dugaan Menghindari Konfirmasi: Kepsek SDN 128 Kaur Diduga Belum Jelaskan Pengelolaan Dana Revitalisasi APBN Rp385 Juta

Jumat, 2 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Dana Desa Bekerja Nyata: Jalan ke Persawahan Talang Marap Mulai Dikerjakan

Rabu, 30 September 2026 - 16:50 WIB

Semangat Kebangsaan Membara: SDN 4 Kaur Gelar Perlombaan Sambut HUT RI ke-81, Tanam Cinta Tanah Air Sejak Dini

Berita Terbaru