Kursi Kepala Desa: Antara Pengabdian, Tekanan, dan Prasangka

- Penulis

Selasa, 6 Januari 2026 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PUSTAKARAKYAT.COM – Di setiap desa, kepala desa kerap menjadi sosok yang paling mudah disorot sekaligus paling sering disalahkan. Ketika jalan rusak, bantuan terlambat, atau keputusan tak memuaskan sebagian pihak, nama kepala desa selalu berada di barisan terdepan untuk dipersalahkan. Padahal, di balik jabatan itu tersimpan lika-liku pengabdian yang tidak sederhana.

Tidak sedikit kepala desa yang bekerja dalam keterbatasan anggaran, regulasi yang ketat, serta tekanan dari berbagai kepentingan. Di satu sisi dituntut cepat dan tegas oleh masyarakat, di sisi lain harus patuh pada aturan administrasi dan hukum yang jika keliru sedikit saja bisa berujung masalah. Situasi ini membuat langkah kepala desa sering berada di posisi serba salah: berbuat baik pun tak jarang tetap dianggap buruk.

Baca Juga :  Pemprov Bengkulu Kirim 100 Ambulans untuk Bantu Korban Bencana di Sumatera

Ironisnya, keberhasilan jarang mendapat apresiasi, sementara kekurangan kecil kerap dibesar-besarkan. Program berjalan dianggap biasa, namun kendala langsung menjadi bahan tudingan. Padahal, pemerintahan desa bukan kerja satu orang, melainkan hasil kolaborasi perangkat desa, BPD, pendamping, dan partisipasi masyarakat itu sendiri.

Sudah saatnya masyarakat mulai mengubah cara pandang. Kritik tentu perlu, namun hendaknya disampaikan secara objektif dan konstruktif, bukan berangkat dari prasangka atau emosi sesaat. Pemerintahan desa bukan musuh rakyat, melainkan mitra dalam membangun kampung halaman agar lebih baik dan berdaya.

Baca Juga :  Opini Publik: KDMP, Pembangunan Tanpa Papan Informasi adalah Alarm Bahaya

Merenung sejenak, mari kita sadari bahwa membangun desa membutuhkan kebersamaan, bukan saling mencurigai. Kepala desa juga manusia, punya keterbatasan, beban moral, dan tanggung jawab besar yang tidak ringan. Jika komunikasi dijaga dan kepercayaan dipupuk, maka persoalan desa akan lebih mudah dicarikan jalan keluar.

Desa yang maju bukan hanya ditentukan oleh siapa kepala desanya, tetapi oleh masyarakat yang mau memahami, mendukung, sekaligus mengawasi dengan cara yang bijak. Berpikir jernih, tidak selalu negatif, dan mengedepankan musyawarah—itulah fondasi desa yang kuat dan berdaulat.

Penulis : Zoni ap

Editor : Zn

Berita Terkait

Rapat Lintas Komisi DPRD Kaur, Firjan Eka Budi Soroti Isu Rekrutmen Honor RS Cahya Batin
Anggota DPRD Rio Candra Angkat Persoalan Pelayanan RS Cahya Batin dalam Rapat Lintas Komisi
Warga Kaur Digegerkan Penemuan Bayi di Kolong Jembatan Padang Guci
Opini Publik: KDMP, Pembangunan Tanpa Papan Informasi adalah Alarm Bahaya
Proyek Dapur MBG di Suka Menanti Masih Abu-Abu, Warga dan Aparat Desa Pertanyakan Legalitas
MBG dan Guru Honorer: Ketimpangan Kebijakan yang Mengusik Rasa Keadilan
Menunggu Uluran Tangan, Bocah 6 Tahun di Kaur Berjuang di RSUD
Talenta Muda Kaur Siap Unjuk Gigi, SSB Semidang Kaur Kantongi Rekomendasi Kejurnas GAN 2026
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 20:22 WIB

Rapat Lintas Komisi DPRD Kaur, Firjan Eka Budi Soroti Isu Rekrutmen Honor RS Cahya Batin

Senin, 19 Januari 2026 - 19:45 WIB

Anggota DPRD Rio Candra Angkat Persoalan Pelayanan RS Cahya Batin dalam Rapat Lintas Komisi

Rabu, 14 Januari 2026 - 09:53 WIB

Warga Kaur Digegerkan Penemuan Bayi di Kolong Jembatan Padang Guci

Selasa, 13 Januari 2026 - 21:05 WIB

Opini Publik: KDMP, Pembangunan Tanpa Papan Informasi adalah Alarm Bahaya

Selasa, 13 Januari 2026 - 20:22 WIB

Proyek Dapur MBG di Suka Menanti Masih Abu-Abu, Warga dan Aparat Desa Pertanyakan Legalitas

Berita Terbaru