Luruskan Niat, Utamakan Syariat: Ibadah Murni Hanya Karena Allah

- Penulis

Senin, 11 Mei 2026 - 20:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaur | Pustakarakyat.com – Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saudara kaum muslimin dan muslimat, marilah kita panjatkan syukur kepada Allah SWT atas nikmat iman, Islam, dan kehidupan yang masih dikaruniakan-Nya hingga hari ini.

Izinkan saya mengajak merenung: Apakah seluruh ibadah dan amal kita murni semata-mata karena Allah? Sebab, niat adalah dasar segala amal, dan Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di hati.

Kita menyaksikan kenyataan yang memprihatinkan: Banyak di antara kita merasa takut, berdosa, atau cemas jika meninggalkan tradisi turun-temurun, padahal hal itu sejatinya hanyalah adat, bukan syariat. Misalnya saat aqiqah, banyak bertanya: “Bagaimana kalau tidak ada marhabanan? Apa kata tetangga? Nanti dibilang melanggar adat.” Padahal hal itu bukan ketentuan wajib ajaran Rasulullah ﷺ.

Begitu juga saat ada yang meninggal dunia. Sebagian besar merasa bersalah besar jika tidak mengadakan peringatan hari ke-3, ke-7, hingga ke-40, atau tidak ada yasinan dan tahlilan. Padahal tidak ada dasar kuat Al-Qur’an maupun Hadis shahih yang mewajibkan hal demikian.

Ironisnya, hal adat begitu diperjuangkan, namun kita sering menganggap remeh, santai, bahkan meninggalkan sholat lima waktu. Padahal sholat adalah tiang agama, pembeda iman, dan amal pertama yang dihisab di hari kiamat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Az-Zariyat ayat 56:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mengapa yang bukan kewajiban begitu dikhawatirkan, sedangkan perintah utama Allah begitu mudah diabaikan? Ini tanda pemahaman yang belum matang, belum bisa memilah: mana yang Wajib, mana yang Sunnah, dan mana yang sekadar Adat belaka.

Mari kita sadari: tujuan hidup kita hanya beribadah kepada Allah. Ibadah yang diterima adalah yang niatnya lurus, murni mengharap ridha-Nya — bukan karena takut dikatakan orang, bukan karena ikut-ikutan kebiasaan. Jangan sampai kita sibuk mempertahankan hal tak berdasar agama, tapi melalaikan perintah Tuhan.

Mari luruskan niat, perbaiki pemahaman. Utamakan sholat lima waktu, dirikan secara berjamaah di masjid, karena Rasulullah ﷺ bersabda:

“Siapa yang sholat berjamaah, maka pahalanya dua puluh lima derajat lebih baik daripada sholat sendiri-sendiri.” (HR. Bukhari)

Perbanyaklah baca Al-Qur’an, zikir, istighfar, dan silaturahmi. Perbanyak saling mengingatkan kebaikan. Semoga Allah memberi hidayah, meluruskan niat, dan menjadikan kita hamba yang ibadahnya murni hanya untuk-Nya, jauh dari segala syirik. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin… Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ustad Madian S, Senin (11/05/2026).

(Okawa)

Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 20:08 WIB

Luruskan Niat, Utamakan Syariat: Ibadah Murni Hanya Karena Allah

Berita Terbaru