PUSTAKARAKYAT.COM || KAUR – KDMP digadang-gadang sebagai program strategis. Narasinya besar, tujuannya mulia, dan dananya berasal dari kantong publik. Namun ketika pembangunan KDMP berjalan tanpa papan informasi proyek, satu pertanyaan tak terelakkan muncul: sedang dibangun apa, oleh siapa, dan dengan uang siapa?
Ini bukan soal selembar papan kayu atau spanduk proyek. Ini soal niat dan cara. Transparansi bukan pelengkap, melainkan fondasi. Ketika fondasi itu diabaikan, publik wajar curiga. Dan kecurigaan publik bukan kesalahan masyarakat, melainkan akibat dari sikap tertutup penyelenggara kegiatan.
KDMP tidak boleh berjalan dalam senyap. Setiap rupiah yang digunakan adalah uang rakyat, dan setiap pembangunan yang dibiayai rakyat wajib terbuka sejak hari pertama. Tanpa papan informasi, KDMP kehilangan wajah akuntabilitasnya dan berubah menjadi proyek yang hanya bisa ditebak, bukan diawasi.
Lebih mengkhawatirkan, praktik semacam ini seolah menormalisasi pelanggaran prosedur. Hari ini tanpa papan proyek, besok tanpa kejelasan anggaran, lusa tanpa pertanggungjawaban. Jika ini dibiarkan, KDMP bukan lagi simbol pembangunan, melainkan contoh buruk tata kelola.
Ironisnya, pemerintah sering mengeluhkan rendahnya kepercayaan publik. Namun di saat yang sama, prosedur paling sederhana justru diabaikan. Bagaimana publik diminta percaya, jika sejak awal informasi saja disembunyikan?
Opini publik hari ini tegas: tidak ada toleransi untuk pembangunan KDMP yang tertutup. Bangunan boleh berdiri megah, tetapi jika prosesnya gelap, maka yang berdiri sebenarnya adalah masalah baru.
Sudah saatnya KDMP dikembalikan ke jalurnya. Pasang papan informasi, buka data, patuhi prosedur. Karena pembangunan yang benar bukan hanya soal hasil akhir, melainkan soal kejujuran dalam proses.
Jika KDMP ingin dihormati, maka ia harus berani diawasi. Jika tidak, maka wajar bila publik bertanya: apa yang sebenarnya sedang disembunyikan?
Penulis : Zoni ap
Editor : Zn











