Bengkulu || Pustakarakyat.com – Sejak Helmi Hasan resmi memimpin Provinsi Bengkulu, kondisi transportasi udara di daerah ini justru dinilai semakin memprihatinkan. Masyarakat menduga, kelangkaan jumlah jadwal penerbangan di rute Bengkulu–Jakarta maupun sebaliknya, ditambah hengkangnya Garuda Indonesia dari Bandara Fatmawati Soekarno, menjadi penyebab utama melambungnya harga tiket yang kini dirasakan sangat memberatkan seluruh lapisan warga, Kamis (28/05/2026).
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar sekaligus kekecewaan mendalam di mata publik. Pasalnya, Gubernur Helmi Hasan diketahui memiliki ikatan darah kandung dengan salah satu pejabat tinggi negara, seorang Menteri di lingkungan Kabinet Presiden Prabowo Subianto. Keberadaan kerabat dekat di lingkaran kekuasaan pusat seharusnya menjadi kekuatan besar agar Bengkulu mendapatkan perhatian istimewa dan solusi cepat, namun diduga pengaruh itu justru belum terasa dampak nyatanya bagi kemudahan akses rakyat.
Dengan makin sedikitnya pilihan penerbangan dan tiadanya lagi layanan dari maskapai pelat merah tersebut, persaingan pasar dinilai hilang sama sekali. Dampak langsungnya sangat terasa tajam: harga tiket sekali jalan kini diduga rata-rata menembus angka Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta, bahkan lebih tinggi di hari tertentu. Masyarakat menduga, kelangkaan pesawat ini sengaja dibiarkan atau tidak ditangani serius, sehingga membuat perjalanan udara yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar kini berubah menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
Kinerja Pemerintah Provinsi Bengkulu di bawah kepemimpinan Helmi Hasan pun diduga kurang tanggap dan lambat bertindak. Padahal, dengan adanya akses langsung ke pusat pemerintahan melalui kerabatnya, seharusnya langkah untuk meminta penambahan frekuensi penerbangan atau memulangkan kembali Garuda Indonesia jauh lebih mudah ditempuh. Namun fakta berbicara lain; hingga kini belum ada kebijakan nyata atau upaya keras yang terlihat dilakukan untuk memutus rantai kelangkaan dan kemahalan yang diduga merugikan masyarakat ini.
Atas segala kesulitan yang dialami, masyarakat menyampaikan kritik membangun namun tegas kepada Gubernur. Publik menduga pemimpin daerah belum cukup peka terhadap jeritan rakyat, padahal modal koneksi yang dimiliki sangat besar. “Kami menduga ada kelalaian atau kurangnya keberpihakan. Pak Gubernur diminta lebih bijak dan cepat tanggap. Jangan sampai kekuasaan dan saudara di pusat hanya menjadi simbol politik saja, sementara kami rakyat kecil yang menanggung akibat kelangkaan dan harga tiket yang mahal ini,” tegas aspirasi warga yang mewakili suara luas.
Sampai berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu masih terus diupayakan untuk memberikan tanggapan resmi terkait dugaan kelalaian dan masalah krusial ini. Kritik ini menjadi teguran keras: jabatan, koneksi, dan hubungan keluarga di tingkat pusat adalah amanah, bukan sekadar hiasan. Masyarakat berharap Gubernur segera bergerak nyata mengatasi kelangkaan penerbangan ini, agar tiket kembali terjangkau dan akses udara Bengkulu tidak semakin terisolasi.(Okawa)











