Perjuangan Pecah Ambeyen Demi Kaur Mekar, Sisman Sidi: 7 Kursi Kosong Paripurna DPRD HUT, Bukti Mereka Tak Tahu Harga Pengorbanan

- Penulis

Minggu, 24 Mei 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kaur || Pustakarakyat.com – Sejarah kelahiran Kabupaten Kaur tercatat dengan tinta emas yang dibasahi keringat, air mata, dan pengorbanan luar biasa para pendahulu. Namun, di tengah kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun ke-23 yang seharusnya menjadi momen penghormatan tertinggi, muncul catatan kelam yang sangat menyakitkan hati. Hal ini disampaikan secara emosional oleh Sisman Sidi, tokoh masyarakat Kabupaten Kaur yang sekaligus menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Kaur, saat memberikan tanggapan tajam terkait pelaksanaan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kaur yang berlangsung tidak lengkap, di mana tercatat ada tujuh orang anggota dewan yang absen.

Bagi Sisman Sidi, ketidakhadiran tujuh wakil rakyat tersebut bukan sekadar masalah administrasi atau kealpaan biasa. Lebih dalam lagi, hal ini dinilainya sebagai bukti nyata bahwa mereka tidak pernah merasakan pahit getirnya perjuangan, tidak tahu betapa mahalnya harga kemerdekaan daerah ini, dan sama sekali tidak menghargai darah dan keringat yang diteteskan para tokoh pemekaran agar Kaur bisa berdiri sendiri.

Dengan nada suara bergetar dan mata berkaca-kaca mengenang masa lalu yang berat itu, Sisman Sidi mengungkapkan fakta sejarah yang seolah mulai dilupakan banyak orang. Beliau menyoroti betapa gigih dan luar biasanya pengorbanan sosok legendaris Syamhardi Saleh, Ketua Presidium Pemekaran Kaur, bersama kawan-kawan seperjuangannya.

“Mereka ini sepertinya hidup di dunia yang berbeda, tidak pernah tahu betapa berat dan pahitnya perjuangan itu. Dulu, Syamhardi Saleh dan kawan-kawan berjuang habis-habisan, rela mengorbankan segalanya. Beliau sampai menggadaikan rumahnya sendiri demi membiayai langkah perjuangan ke Jakarta. Dan puncak pengorbanan itu, di Gedung Nusantara DPR RI itulah, beliau berjuang meski dalam kondisi sakit parah, hingga ambeyen beliau pecah di tempat itu juga. Meski menahan rasa sakit yang luar biasa itu, beliau tidak berhenti, tidak pulang, dan tetap berjuang mati-matian demi satu tujuan: agar Kaur bisa mekar, agar Kaur lahir menjadi kabupaten sendiri,” ungkap Sisman Sidi dengan suara parau, penuh rasa haru dan bangga.

Sisman Sidi tidak berbicara berdasarkan cerita orang lain atau sekadar dongeng sejarah. Beliau menegaskan dirinya adalah saksi mata langsung sejarah yang sahih.

“Aku tahu persis semua kejadian itu, karena saat itu aku sendiri sedang menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Bengkulu. Aku melihat, aku merasakan, dan aku menyaksikan langsung betapa beratnya jalan yang mereka tempuh. Rasa lelah, sakit yang diderita, air mata, pengorbanan harta dan tenaga semuanya mereka curahkan demi lahirnya Kabupaten Kaur yang kita cintai ini,” kenang Sisman sambil meneteskan air mata haru mengingat ketabahan para pendahulu itu.

Baca Juga :  Opini Publik: KDMP, Pembangunan Tanpa Papan Informasi adalah Alarm Bahaya

Menurut Sisman Sidi, kelahiran Kabupaten Kaur bukanlah pemberian cuma-cuma atau hadiah pemerintah semata, melainkan buah dari perjuangan nyawa dan raga yang luar biasa berat. Oleh karena itu, saat melihat fakta bahwa di hari besar dan sakral HUT ke-23 kemarin, pada momen Paripurna Istimewa yang menjadi puncak penghormatan terhadap sejarah itu, justru ada 7 kursi wakil rakyat yang kosong melompong, rasa kecewanya meluap tak terbendung.

“Sangat menyayangkan, sangat menyakitkan hati. Di hari ulang tahun daerah ini, di momen paling sakral untuk mengenang jasa para pendahulu yang rela berjuang hingga ambeyennya pecah demi Kaur mekar, justru tujuh anggota DPRD tidak hadir. Bagi kami sebagai tokoh masyarakat, bagi rakyat, dan bagi sejarah, ini terkesan sangat tidak menghormati perjuangan yang sudah ditorehkan. Ini terkesan melupakan amanah besar yang diemban. Bagaimana mungkin mereka duduk di kursi empuk hasil keringat, air mata, dan rasa sakit pengorbanan orang lain, tapi tidak hadir saat daerahnya sedang merayakan hari kelahirannya sendiri?” kritik Sisman Sidi dengan nada tegas dan lurus.

Lebih jauh, Sisman Sidi menyoroti sisi moral dan etika yang menurutnya telah sangat diabaikan secara kasar.

“Ini adalah salah satu bentuk betapa adap telah mereka abaikan. Terlalu kasar rasanya jika saya mengatakan mereka lupa akan adat, namun kenyataannya mereka sama sekali tidak menghargai sejarah perjuangan daerah ini. Padahal, Proklamator kita Bung Karno telah berpesan dengan semangat JASMERAH, yaitu: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Pesan luhur itu seolah tak ada artinya bagi mereka,” tegasnya dengan nada kecewa mendalam.

Oleh sebab itu, lanjut Sisman Sidi, hal ini menjadi bukti nyata betapa perlunya penanaman nilai-nilai sejarah, budaya, dan ideologi yang terus-menerus dilakukan kepada masyarakat kita. Khususnya bagi generasi muda, yang insyaallah kelak akan menggantikan peran para seniornya di negeri ini, termasuk di Kabupaten Kaur tercinta.

Baca Juga :  Dana Revitalisasi Pendidikan 2026 Kaur Masuk Tahap Proses: Nilai Anggaran & Sekolah Penerima Masih Menunggu Keputusan Pusat

“Jika para pemegang jabatan saja sudah lupa sejarah dan tak paham arti pengorbanan, bagaimana dengan anak cucu kita nanti? Maka penanaman nilai ini wajib terus digaungkan agar semangat juang tidak pernah mati,” tambahnya.

Sisman Sidi mengingatkan kembali dengan sangat keras, bahwa menjadi anggota DPRD, menjadi wakil rakyat pilihan masyarakat Kaur, bukan sekadar jabatan, bukan sekadar profesi, apalagi sekadar mencari kekuasaan semata. Ada tugas mulia dan tanggung jawab berat yang disandang di pundak mereka.

“Kursi yang mereka duduki itu adalah amanah rakyat. Tugas dan tanggungjawab mereka adalah menjaga daerah ini, menghormati sejarahnya, dan berjuang demi kemajuan masyarakatnya sama seperti yang dilakukan Syamhardi Saleh dan kawan-kawan dulu. Jika saja mereka tahu betapa pahit, betapa sakit, dan betapa beratnya perjuangan dulu—bahkan rela menggadaikan rumah dan berjuang meski ambeyennya pecah demi Kaur mekar—tidak mungkin mereka tega mengosongkan kursi itu di hari besar seperti kemarin. Mereka terlihat tidak paham dari mana mereka berasal dan apa tujuan mereka duduk di gedung dewan ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Sisman Sidi berpesan menyentuh hati seluruh elemen masyarakat dan khususnya para wakil rakyat yang terpilih, agar segera sadar dan berbenah diri. Demi kemajuan Kabupaten Kaur ke depan, diperlukan pemimpin dan wakil rakyat yang punya hati, punya sejarah, dan punya rasa hormat terhadap perjuangan para pendiri daerah.

“Kita ingin Kaur maju, kita ingin Kaur lebih baik lagi dari hari ke hari. Tapi bagaimana bisa maju jika wakil rakyatnya sendiri saja tidak menghargai sejarah kelahirannya? Mari kita sadarkan mereka. Ingatkan kembali tugas pokok dan fungsi mereka, ingatkan kembali janji sumpah jabatan mereka. Jangan sampai pengorbanan Syamhardi Saleh yang menggadaikan rumah, berjuang sakit-sakitan hingga ambeiennya pecah di Gedung Nusantara demi agar Kaur bisa mekar dan berdiri sendiri, menjadi sia-sia hanya karena kelalaian dan ketidakpedulian sebagian wakil rakyat saat ini,” pungkas Sisman Sidi dengan harapan besar agar DPRD Kaur kembali menjadi kebanggaan masyarakat dan layak mewarisi semangat juang para pendiri daerah, Minggu (25/05/2026).

(Okawa)

Berita Terkait

Paripurna HUT Kaur Hancur oleh 7 Kursi Kosong, Ketua FKPB: Badan Kehormatan DPRD Wajib Bertindak Tertibkan Anggota yang Lupa Sejarah dan Amanah
Paripurna Istimewa HUT ke-23 Kaur, Ketua DPRD: Perkuat Persatuan, Percepat Pembangunan di Tengah Efisiensi Anggaran
Dirgahayu ke-23 Kaur: “Se’ase Se’ijean Dalam Berbakti”, Bupati, Wabup dan Ketua Presidium Pemekaran Bersatu Hati Bangun Tanah Tercinta
Kasus PPA Tahun 2026 Tembus 70 Persen, Kepala UPTD PPA: Belum Ada Anggaran Sosialisasi Tahun Ini, Peran Semua Pihak Jadi Kunci Utama
Kasus PPA Kaur 2026 Tembus 70 Persen, Tokoh Masyarakat: Minta Bupati Kaur Instruksikan TAPD Anggarkan Dana Pencegahan di Perubahan APBD
Ny. Popy Tatriansi Gusril: Kelembutan Hati Seperti Bunga, Semangat TP-PKK Mengalir Indah Demi Kemajuan Kaur
Kasus Korupsi DAK Dinas Pertanian Kaur: Jaksa Tuntut 12 Terdakwa, Paling Berat 4 Tahun Penjara
Kepala Disdikbud Lisarmawan: HUT ke-23 dan Festival Gurita Tonggak Wujudkan Kaur Maju, Masyarakat Sejahtera
Berita ini 341 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 19:09 WIB

Perjuangan Pecah Ambeyen Demi Kaur Mekar, Sisman Sidi: 7 Kursi Kosong Paripurna DPRD HUT, Bukti Mereka Tak Tahu Harga Pengorbanan

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:44 WIB

Paripurna HUT Kaur Hancur oleh 7 Kursi Kosong, Ketua FKPB: Badan Kehormatan DPRD Wajib Bertindak Tertibkan Anggota yang Lupa Sejarah dan Amanah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:52 WIB

Paripurna Istimewa HUT ke-23 Kaur, Ketua DPRD: Perkuat Persatuan, Percepat Pembangunan di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:49 WIB

Dirgahayu ke-23 Kaur: “Se’ase Se’ijean Dalam Berbakti”, Bupati, Wabup dan Ketua Presidium Pemekaran Bersatu Hati Bangun Tanah Tercinta

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:23 WIB

Kasus PPA Tahun 2026 Tembus 70 Persen, Kepala UPTD PPA: Belum Ada Anggaran Sosialisasi Tahun Ini, Peran Semua Pihak Jadi Kunci Utama

Berita Terbaru